SAKSI BISU SPUTANGAN BIRU
“Hallo
iya sayang aku baik-baik aja ko, aku baru pulang sekolah nih”. Kata aku yang
baru saja mengangkat telpon dari kekasihku itu. Oh iya aku memang sudah
mempunyai kekasih , kami sudah berpacaran sejak dua tahun yang lalu, saya
memang sudah tidak merasa lagu dengan dia, selisih umur saya 4 tahun lebih muda
dari dia. Sejak dia masih menjadi seorang Mahasiswa disalah satu Perguruan
Tinggi dan dulu saya masih duduk dikelas dua SMA.
Suatu
hari dia mengajak saya jalan-jalan untuk merayakan ulang tahunnya pada tanggal
12 Januari. “Sayang.. Besok kita jalan ya? Kamu masih ingatkan besok hari ulang
tahun aku?”katanya. “Iya sayang, aku tau, aku juga ingat, Tapi..” kata aku
terdiam. “Tapi kenapa sayang?” katanya. “Tapi aku tidak punya apa-apa buat
kamu, emangnya kamu gak keberatan kalau aku gak bawa hadiah buat kamu sayang,
kamu tau ini kan keadaan aku kaya gimana?” kata aku dengan suara rendah dan
menunduk. “Iya sayang, aku gak apa-apa kalau kamu gak bawa hadiah juga, karena
kamu adalah hadiah terindah dari Tuhan buat aku sayang” katanya tersenyum.
“Makasih ya sayang” kata aku malu banget karena aku sebagai kekasihnya gak bisa
kasih apa-apa dihari yang sangat special buat dia, aku merasa tidak berguna,
aku menangis tersedu-sedu karena aku sangat merasa bersalah.
Malam
itu, tepatnya malam sebelum dia ulang tahun aku tidak bisa tertidur, aku kesana
kemari kebingungan , aku bingung, aku gak tau aku harus bawa apa besok. Aku tak
hentinya berpikir. Akhirnya aku menemukan sebuah Sapu Tangan biru yang terselip
dilemariku itu. Semalaman aku gak tidur, aku menyulap Saputanganku tadi yang
aku beri tulisan Sintia Love Djanuar . Dengan alat seadanya aku
terusberusaha semampu aku sehingga tak terasa baru slesai jam 12 malam. “Sayang
aku minta maaf ya, Cuma ini yang bisa aku kasih” kata aku didalam hati sambil
mencium sapu tangan itu dengan deraian air mata. Lalu aku melihat cermin, ku
tarik nafas dalam-dalam Aku bukanlah wanita yang cantik, aku juga bukan makhluk
Tuhan yang sempurna, kamu yang selalu membuat aku merasa sempurna dan keyakinan
ini yang membuat aku bertahan disisimu.
“Pagi
sayang … tar aku langsung jemput kerumah kamu aja ya, jam 7 pagi. Dandan yang cantik ya sayang
hehehe” katanya yang membangunkan ku dengan harapanya itu. “Iya ah bawell” kata
aku yang baru saja bangun. Wallah.. aku melihat jam udah jam 06. 30 , berarti
Cuma ada waktu 30 menit buat siap-siap.. Ya ampuunn.. Aku tergesa-gesa
membereskan tempat tidur, langsung mandi, langsung sarapan, langsung dandan,
nunggu jemputan deh. Tidak lama kemudian dia langsung ada didepan rumah aku,
langsung saja aku dibawa ke sebuah Taman. “Sayang selamat ulang tahun ya..
Semoga panjang umur, sehat selalu, dimudahkan rizkinya, pokonya Wish you all
the best deh” kata aku sambil mengecup pipinya. “Iya bawell, makasih atas
doanya ya.. I Love You” kata dia sambil memelukku. Ketika duduk aku langsung
saja memberikan saputangan yang aku buat tadi malam. “Makasih ya sayang
hadiahnya aku suka banget, ini pasti kamu yang buat ya? Mana ada nama kita
lagi.. Keren banget deh sayang” kata dia sambil tersenyum. Aku hanya
membalasnya dengan tersenyum.
Tidak
disadari air mata aku pun terurai. Dia berkata “Sayang kenapa? Aku suka
hadiahnya.. Kamu jangan berfikir macam-macam ya sayang”. “Tapii…” dia memotong
aku bicara, dia lalu menghapus air mata ku. “Sayang aku mau bicara sama kamu
boleh? Katanya. “Iya sayang boleh” kata aku yang penasaran. “Begini sayang, aku
di jodohin sama perempuan pilihan Ibu aku, perempuan itu anak teman Ibu
dikantor, tapi ya jelas aku gak mau sayang? Aku kan punya kamu, aku gak mungkin
tinggalin kamu, jadi sekarang juga aku mau bawa kamu ke rumah aku, buat
dikenalin sama Ibu” katanya penuh harap. “Tapi kan sayang?’ kata aku
kebingungan. Dia langsung saja membawa aku ke rumahnya.
Sesampainya
dirumah aku langsung dikenalkan dengan ibunya. “Buu.. ini Sintia, kekasih aku?
Dia baik , dia bisa buat aku bahagia, aku sayang dan cinta dia” kata dia sambil
memegang tanganku. Lalu aku pun tersenyum dan mencium tangan ibu kekasih saya
itu. Sejenak ibunya memperhatikan saya. Melihat saya dari atas kepala sampe
kaki saya. “Hmmm… Dia cantik, kamu pintar memilih perempuan. Tapi belum tentu
dia bisa diterima di keluarga kita, apa pekerjaan ayah kamu? Memiliki berapa
perusaahan besar? Berapa penghasilanya perbulan?” kata ibunya. “Saya orang
biasa tidak seperti keluarga Ibu, Ayah saya juga pekerja biasa tidak mempunyai
perusaahn besar, mungkin saya dan keluarga saya memang tidak pantas bersanding dengan
keluarga ibu.” Kata aku sambil menangis. “Apaaa???????? Djanuar kamu memilih perempuan
yang salah ! Apa kata teman-teman Mama kalau mereka tau calon menantu Mama
seperti dia? Mau di simpan dimana harga diri keluarga kita Djanuar? Sudah,
minggu depan kamu menikah dengan Desi ! Dia perempuan yang pantas buat kamu,
dan juga buat keluarga kita ! Kamu tinggalkan saja dia, perempuan ga tau diri
yang tidak jelas asal usulnya !” kata ibunya marah-marah dengan suara tinggi.
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut ibu Djanur membuat seakan-akan aku
tak bernyawa, aku tak bisa bernafas, aku tidak bisa menghentikan air mata yang
terus-menerus jatuh terurai. Djanuar pun tidak bisa berkata dan tidak berbuat
apa-apa. Langsung saja aku lari keluar dari istana mewah itu membawa luka yang
mungkin tak bisa aku lupakan.
Sesampai
dirumah aku menangis tiada henti, aku telah dicaci maki oleh ibunya. Dan pada
hari itu juga aku kehilangan Malaikat pelindung yang selalu menjagaku, menemani
hari-hari ku, dan membuatku tersenyum. Mengapa Tuhan memisahkan aku dan dia
tepat dihari ulang tahunya. Aku tak habis berpikir, mungkin ini rencana Tuhan
aku hanya bisa beresabar dan mencoba melupakan Malaikat itu. Dari mulai hari
itu aku tidak pernah menghubungi Djanuar lagi. Tapi hari- aku terasa sangatlah
sepi dan seakan-akan tidak berarti. Dan bayangan Djanuar yang mungkin sudah
melupakanku dan bahagia bersama perempuan itu. Kini aku hanya bisa mendoakan
dia agar selalu bahagia bersama perempuan itu, karena aku sendiri tidak bisa
membahagiakan dia. Itulah yang selalu ku ucapkan dam doaku.
Kami
tidak bertemu sudah 4 tahun lamanya. Tapi sampai saat ini juga aku belum bisa
melupakanya karena banyak sekali kenangan-kenangan indah yang selalu dia
berikan di setiap detik ketika aku bersamanya dahulu. Aku menghabiskan waktuku
dengan bekerja disebuiah Bank, dan aku juga telah menikah dengan seorang pria
pemilik Bank tempat dimana aku kerja sekarang.
Suatu
hari aku lari pagi ke Taman kota karena hari itu kebetulan aku sedang cuti
bersama. Ketika aku duduk di bangku taman sekilas aku melihat Pangeran Tampan
yang mirip sekali dengan masa lalu indahku dulu. Kemudian pria itu
menghampiriku “Sintia? Kata pria itu melihatku dan terseyum. “Djanuarr?” kata
aku kaget sekali. Aku gak nyangka banget aku bisa ketemu lagi dengan
Malaikatku. “Sayang kenapa dulu kamu pergi? Katanya. “Sudahlah mungkin itu
memang yang terbaik untuk kita berdua, ingat Djanuar sekarang kamu itu sudah
mempunya istri ! Ehh.. kamu masih simpan aja Saputangan jelek itu? Kenapa gak
kamu buang aja? Kata aku. “Kamu salah besar ! ini saputangan terindah dari Peri
kecil yang Bawell.. Aku masih cinta kamu sayang, Aku tau kamu gak bakalan bisa
lupain aku? Kamu itu udah cinta mati sama aku? Jadi kamu jangan bilang kalau
kamu udah bisa lupain aku, karena itu pasti bohong ! Masih sayang kan?” kata
dia tersenyum. “Sudah Djanuar ! INGAT kamu itu suami orang, aku juga istri
orang ! jadi gak mungkin kita balik lagi kaya dulu !” kata aku dengan nada
keras.” Kalau boleh tau kamu sudah punya anak belum? Namanya siapa? Umur
berapa?” kata aku penasaran. “Aku baru aja punya anak, namanya Sintia baru aja
berumur satu tahun, Kalau kamu” katanya juga. “Anak aku namanya Djanuar, dia
berumur tiga tahun” kata aku terhenti. Sejenak kami saling menatap. Ingin
sekali aku memeluknya, aku rindu kasih sayangnya, aku rindu dirinya, sebenarnya
apa yang dia katakana benar. Aku masih sayang dan mencintainya. Tapi waktulah
yang membuat aku dan dia seperti ini. Tidak terasa aku dan dia meneteskan air
mata. Ingin sekali aku menghapus air mata yang membasahi pipinya, tapi itu
tidak mungkin.
Dan
saat itu juga aku dijemput oleh suamiku, dan istri dia juga datang
menghampirinya. Lalu kami pun pulang. Dia berjalan dengan istrinya lalu
menengok ke arahku sambil mencium saputangan ku itu. Dan aku pun
membalasnya dengan tersenyum sambil melambaikan tanganku. Suamiku bertanya
“Siapa itu sayang” aku pun menjawab “Dia teman aku dulu sewaktu SMA”.
Sejak
saat itu juga aku mengubur dalam-dalam kenangan indah bersama Djanuar. Dan hanya Saputangan Biru yang menjadi Saksi Bisu cinta
aku dan dia.
Cerita
ini hanyalah Fiktip belaka dan karangan semata. Jika ada kesamaan Nama, Tempat
atau Kejadian itu hanyalah kebetulan.
*semoga ada kesan tersendiri bagi pembaca
.thanks
Tidak ada komentar:
Posting Komentar