Minggu, 24 April 2016

CERITA PENDEK "Saksi bisu saputangan biru"



        SAKSI BISU SPUTANGAN BIRU

“Hallo iya sayang aku baik-baik aja ko, aku baru pulang sekolah nih”. Kata aku yang baru saja mengangkat telpon dari kekasihku itu. Oh iya aku memang sudah mempunyai kekasih , kami sudah berpacaran sejak dua tahun yang lalu, saya memang sudah tidak merasa lagu dengan dia, selisih umur saya 4 tahun lebih muda dari dia. Sejak dia masih menjadi seorang Mahasiswa disalah satu Perguruan Tinggi dan dulu saya masih duduk dikelas dua SMA.
Suatu hari dia mengajak saya jalan-jalan untuk merayakan ulang tahunnya pada tanggal 12 Januari. “Sayang.. Besok kita jalan ya? Kamu masih ingatkan besok hari ulang tahun aku?”katanya. “Iya sayang, aku tau, aku juga ingat, Tapi..” kata aku terdiam. “Tapi kenapa sayang?” katanya. “Tapi aku tidak punya apa-apa buat kamu, emangnya kamu gak keberatan kalau aku gak bawa hadiah buat kamu sayang, kamu tau ini kan keadaan aku kaya gimana?” kata aku dengan suara rendah dan menunduk. “Iya sayang, aku gak apa-apa kalau kamu gak bawa hadiah juga, karena kamu adalah hadiah terindah dari Tuhan buat aku sayang” katanya tersenyum. “Makasih ya sayang” kata aku malu banget karena aku sebagai kekasihnya gak bisa kasih apa-apa dihari yang sangat special buat dia, aku merasa tidak berguna, aku menangis tersedu-sedu karena aku sangat merasa bersalah.
Malam itu, tepatnya malam sebelum dia ulang tahun aku tidak bisa tertidur, aku kesana kemari kebingungan , aku bingung, aku gak tau aku harus bawa apa besok. Aku tak hentinya berpikir. Akhirnya aku menemukan sebuah Sapu Tangan biru yang terselip dilemariku itu. Semalaman aku gak tidur, aku menyulap Saputanganku tadi yang aku beri tulisan   Sintia Love  Djanuar . Dengan alat seadanya aku terusberusaha semampu aku sehingga tak terasa baru slesai jam 12 malam. “Sayang aku minta maaf ya, Cuma ini yang bisa aku kasih” kata aku didalam hati sambil mencium sapu tangan itu dengan deraian air mata. Lalu aku melihat cermin, ku tarik nafas dalam-dalam Aku bukanlah wanita yang cantik, aku juga bukan makhluk Tuhan yang sempurna, kamu yang selalu membuat aku merasa sempurna dan keyakinan ini yang membuat aku bertahan disisimu.
“Pagi sayang … tar aku langsung jemput kerumah kamu aja  ya, jam 7 pagi. Dandan yang cantik ya sayang hehehe” katanya yang membangunkan ku dengan harapanya itu. “Iya ah bawell” kata aku yang baru saja bangun. Wallah.. aku melihat jam udah jam 06. 30 , berarti Cuma ada waktu 30 menit buat siap-siap.. Ya ampuunn.. Aku tergesa-gesa membereskan tempat tidur, langsung mandi, langsung sarapan, langsung dandan, nunggu jemputan deh. Tidak lama kemudian dia langsung ada didepan rumah aku, langsung saja aku dibawa ke sebuah Taman. “Sayang selamat ulang tahun ya.. Semoga panjang umur, sehat selalu, dimudahkan rizkinya, pokonya Wish you all the best deh” kata aku sambil mengecup pipinya. “Iya bawell, makasih atas doanya ya.. I Love You” kata dia sambil memelukku. Ketika duduk aku langsung saja memberikan saputangan yang aku buat tadi malam. “Makasih ya sayang hadiahnya aku suka banget, ini pasti kamu yang buat ya? Mana ada nama kita lagi.. Keren banget deh sayang” kata dia sambil tersenyum. Aku hanya membalasnya dengan tersenyum.



Tidak disadari air mata aku pun terurai. Dia berkata “Sayang kenapa? Aku suka hadiahnya.. Kamu jangan berfikir macam-macam ya sayang”. “Tapii…” dia memotong aku bicara, dia lalu menghapus air mata ku. “Sayang aku mau bicara sama kamu boleh? Katanya. “Iya sayang boleh” kata aku yang penasaran. “Begini sayang, aku di jodohin sama perempuan pilihan Ibu aku, perempuan itu anak teman Ibu dikantor, tapi ya jelas aku gak mau sayang? Aku kan punya kamu, aku gak mungkin tinggalin kamu, jadi sekarang juga aku mau bawa kamu ke rumah aku, buat dikenalin sama Ibu” katanya penuh harap. “Tapi kan sayang?’ kata aku kebingungan. Dia langsung saja membawa aku ke rumahnya.
Sesampainya dirumah aku langsung dikenalkan dengan ibunya. “Buu.. ini Sintia, kekasih aku? Dia baik , dia bisa buat aku bahagia, aku sayang dan cinta dia” kata dia sambil memegang tanganku. Lalu aku pun tersenyum dan mencium tangan ibu kekasih saya itu. Sejenak ibunya memperhatikan saya. Melihat saya dari atas kepala sampe kaki saya. “Hmmm… Dia cantik, kamu pintar memilih perempuan. Tapi belum tentu dia bisa diterima di keluarga kita, apa pekerjaan ayah kamu? Memiliki berapa perusaahan besar? Berapa penghasilanya perbulan?” kata ibunya. “Saya orang biasa tidak seperti keluarga Ibu, Ayah saya juga pekerja biasa tidak mempunyai perusaahn besar, mungkin saya dan keluarga saya memang tidak pantas bersanding dengan keluarga ibu.” Kata aku sambil menangis. “Apaaa???????? Djanuar kamu memilih perempuan yang salah ! Apa kata teman-teman Mama kalau mereka tau calon menantu Mama seperti dia? Mau di simpan dimana harga diri keluarga kita Djanuar? Sudah, minggu depan kamu menikah dengan Desi ! Dia perempuan yang pantas buat kamu, dan juga buat keluarga kita ! Kamu tinggalkan saja dia, perempuan ga tau diri yang tidak jelas asal usulnya !” kata ibunya marah-marah dengan suara tinggi. Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut ibu Djanur membuat seakan-akan aku tak bernyawa, aku tak bisa bernafas, aku tidak bisa menghentikan air mata yang terus-menerus jatuh terurai. Djanuar pun tidak bisa berkata dan tidak berbuat apa-apa. Langsung saja aku lari keluar dari istana mewah itu membawa luka yang mungkin tak bisa aku lupakan.
Sesampai dirumah aku menangis tiada henti, aku telah dicaci maki oleh ibunya. Dan pada hari itu juga aku kehilangan Malaikat pelindung yang selalu menjagaku, menemani hari-hari ku, dan membuatku tersenyum. Mengapa Tuhan memisahkan aku dan dia tepat dihari ulang tahunya. Aku tak habis berpikir, mungkin ini rencana Tuhan aku hanya bisa beresabar dan mencoba melupakan Malaikat itu. Dari mulai hari itu aku tidak pernah menghubungi Djanuar lagi. Tapi hari- aku terasa sangatlah sepi dan seakan-akan tidak berarti. Dan bayangan Djanuar yang mungkin sudah melupakanku dan bahagia bersama perempuan itu. Kini aku hanya bisa mendoakan dia agar selalu bahagia bersama perempuan itu, karena aku sendiri tidak bisa membahagiakan dia. Itulah yang selalu ku ucapkan dam doaku.
Kami tidak bertemu sudah 4 tahun lamanya. Tapi sampai saat ini juga aku belum bisa melupakanya karena banyak sekali kenangan-kenangan indah yang selalu dia berikan di setiap detik ketika aku bersamanya dahulu. Aku menghabiskan waktuku dengan bekerja disebuiah Bank, dan aku juga telah menikah dengan seorang pria pemilik Bank tempat dimana aku kerja sekarang.



Suatu hari aku lari pagi ke Taman kota karena hari itu kebetulan aku sedang cuti bersama. Ketika aku duduk di bangku taman sekilas aku melihat Pangeran Tampan yang mirip sekali dengan masa lalu indahku dulu. Kemudian pria itu menghampiriku “Sintia? Kata pria itu melihatku dan terseyum. “Djanuarr?” kata aku kaget sekali. Aku gak nyangka banget aku bisa ketemu lagi dengan Malaikatku. “Sayang kenapa dulu kamu pergi? Katanya. “Sudahlah mungkin itu memang yang terbaik untuk kita berdua, ingat Djanuar sekarang kamu itu sudah mempunya istri ! Ehh.. kamu masih simpan aja Saputangan jelek itu? Kenapa gak kamu buang aja? Kata aku. “Kamu salah besar ! ini saputangan terindah dari Peri kecil yang Bawell.. Aku masih cinta kamu sayang, Aku tau kamu gak bakalan bisa lupain aku? Kamu itu udah cinta mati sama aku? Jadi kamu jangan bilang kalau kamu udah bisa lupain aku, karena itu pasti bohong ! Masih sayang kan?” kata dia tersenyum. “Sudah Djanuar ! INGAT kamu itu suami orang, aku juga istri orang ! jadi gak mungkin kita balik lagi kaya dulu !” kata aku dengan nada keras.” Kalau boleh tau kamu sudah punya anak belum? Namanya siapa? Umur berapa?” kata aku penasaran. “Aku baru aja punya anak, namanya Sintia baru aja berumur satu tahun, Kalau kamu” katanya juga. “Anak aku namanya Djanuar, dia berumur tiga tahun” kata aku terhenti. Sejenak kami saling menatap. Ingin sekali aku memeluknya, aku rindu kasih sayangnya, aku rindu dirinya, sebenarnya apa yang dia katakana benar. Aku masih sayang dan mencintainya. Tapi waktulah yang membuat aku dan dia seperti ini. Tidak terasa aku dan dia meneteskan air mata. Ingin sekali aku menghapus air mata yang membasahi pipinya, tapi itu tidak mungkin.
Dan saat itu juga aku dijemput oleh suamiku, dan istri dia juga datang menghampirinya. Lalu kami pun pulang. Dia berjalan dengan istrinya lalu menengok  ke arahku  sambil mencium saputangan ku itu. Dan aku pun membalasnya dengan tersenyum sambil melambaikan tanganku. Suamiku bertanya “Siapa itu sayang” aku pun menjawab “Dia teman aku dulu sewaktu SMA”.
Sejak saat itu juga aku mengubur dalam-dalam kenangan indah bersama Djanuar. Dan  hanya Saputangan Biru yang menjadi Saksi Bisu cinta aku dan dia.
Cerita ini hanyalah Fiktip belaka dan karangan semata. Jika ada kesamaan Nama, Tempat atau Kejadian itu hanyalah kebetulan.
  
*semoga ada kesan tersendiri bagi pembaca .thanks

Tidak ada komentar:

Posting Komentar